MUDIK SEBUAH KESALEHAN KULTURAL

Oleh : Rano Rahman

Mudik (Pulang kampung) di saat menjelang Idul Fitri, merupakan fenomena yang melekat dalam rutinitas tahunan sebagian besar masyarakat Islam Indonesia. Sebuah gejala sosial yang kemudian menjadi kultur baru bangsa ini. Mudik Lebaran sudah menjadi tradisi baru yang benar-benar menunjukan perilaku khas anak bangsa ini. Bahkan mudik saat ini bukan hanya di monopoli oleh Umat islam saja tetapi telah menjadi kebutuhan semua elemen bangsa.

Istilah mudik, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta (1976). Dalam kamus yang disusun Badudu-Zain (1994), dan Abdul Chaer (1976), dikatakan bahwa mudik berarti ‘’pulang ke udik, atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari lebaran’’. Menurut Umar Kayam (2002), mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit. Kegiatan itu dulu digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, yang disertai upacara doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan. Tujuannya, agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki, sementara keluarga yang ditinggalkan tak dirundung petaka.

Tetapi setelah pengaruh agama Islam masuk ke tanah Jawa, tradisi tersebut berangsur-angsur terkikis, karena dianggap sebagai perbuatan yang sia-sia dan masuk dalam katagori syirik. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.

Mudik merupakan sebuah cermin dialektika kesalehan sosial, sebuah fenonomena kesalehan dalam upaya mewujudkan hubungan vertikal dan horizontal manusia yang dibingkaikan dalam tradisi lokal. Mudik dalam prakteknya tidak lepas dari kegiatan – kegiatan seperti saling mengunjungi, saling berbagi, saling merekatkan ikatan yang sudah mulai tak kendor. Secara nyata dapat kita lihat dan rasakan bahwa dengan mudik akan menjadi sarana untuk mengingat asal-usul pelakunya, entah itu tentang daerah, komunitas etnik, keluarga, sanak famili, bapak-ibu, sampai pada garis kekerabatan yang lebih luas.

Berbagai aktivitas saat mudik tentu saja akan mendatangkan saling pengertian dan rasa kebersamaan yang lebih mendalam jika dibandingkan dengan hanya melalui media seperti telepon. Mudik merupakan perwujudan melaksanakan perintah Allah, yaitu silaturahmi. Menyambung tali silaturahmi sangat penting artinya bagi hubungan antar sesama manusia. Bahkan dalam suatu hadist silaturahmi dapat menjadi salah satu sebab datangnya rezeki.

Tinjuan historis dan pandangan terhadap fenomena mudik diatas bisa mengarahkan kita pada sebuah kesimpulan sederhana bahwa mudik adalah salah satu kearifan lokal adiluhung yang patut dilestarikan.

Dalam pandangan yang berbeda, ,mudik bila dikaitkan dengan gaya hidup yang di lahirkan dari sebuah “isme” global saat ini, dapat menjadi sebuah fenomena lain. Mudik bukan lagi menjadi bagian dari perwujudan kesalehan social maupun kesalehan kultural, melainkan memperkuat budaya hedonisme di kalangan Umat islam Indonesia, upaya untuk menjadi sosok yang lain dari jati diri bangsa ini. Mudik juga menjadi stimulus bagi tumbuhnya budaya konsumerisme yang di latar belakangi keinginan untuk mendapatkan klaim pribadi, sebuah upaya unjuk diri dengan memanfaatkan momen lebaran. Alasan ini berlatar belakang dari kebiasaan para pemudik yang berlomba-lomba menunjukkan eksistensi keberhasilannya di perantauan pada penduduk asli. Akibat buruknya dari kondisi yang “diciptakan ini” adalah rusaknya suasana indahnya kebersamaan dalam Idul Fitri.

Meningktnya jumlah pemudik bukan merupakan fakta bila kondisi ekonomi rakyat semakin membaik, justru sebaliknya meningkatnya jumlah pemudik merupakn isyarat langsung bagi kita bahwa saat ini semakin sedikit lapangan kerja di daerah asal para pemudik. Dalam hal ini saya menyatakan bahwa meningkatnya jumlah pemudik berbanding lurus dengan angka kemiskinan, sehingga semakin banyak orang bermigrasi dari desa-kekota, dari pulau -kepulau, menunjukan bahwa kesejahteraan dan lapangan kerja tidak memadai lagi dan sulit di dapat di daerah asal.

Tradisi mudik Lebaran menyampaikan pesan konkret. Kita masih perlu terus belajar, karena sifatnya berkelitan menyatu keberagamaan dan sosial budaya, perayaan keagamaan,tetapi sekaligus euforia sosial yang menguras banyak belanja kapital serta energi kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: